Syarat Melaksanakan Haji dan Umrah

By | May 14, 2019

Syarat, Rukun, serta Wajib Haji dan Umrah
1. Syarat Haji dan Umrah
Beberapa syarat haji dan jadi syarat umrah adalah sebagai tersebut (Slamet Abidin,1998:271) :
a. Beragama Islam.
b. Baligh.
c. Berakal sehat.
d. Merdeka.
e. Mampu yakni di dalam perihal kendaraan, bekal, pengongkosan, dan keamanan di di dalam perjalanan.
Pengertian dapat itu tersedia 2 macam :
1) Mampu mengerjakan haji bersama dengan sendirinya, bersama dengan lebih {dari satu} syarat sebagai tersebut :
a) Mempunyai bekal yang lumayan untuk pergi ke mekah dan kembalinya.
b) Ada kendaraan yang pantas bersama dengan keadaannya, baik kepunyaan sendiri ataupun bersama dengan jalur menyewa.
c) Aman perjalanannya. Artinya dimasa itu umumnya orang-orang yang lewat jalur itu selamat sentosa.
d) Syarat wajib haji bagi perempuan, hendaklah ia berlangsung bersama-sama bersama dengan mahramnya, bersama-sama bersama dengan suaminya, atau bersama-sama bersama dengan perempuan yang dipercayai. (Fiqih Islam. 1986: 249).
2) Kuasa mengerjakan haji yang bukan dijalankan oleh orang bersangkutan, tetapi bersama dengan jalur menggantinya bersama dengan orang lain. Contohnya haji orang yang sudah meninggal dunia.
Bagi yang tidak mencukupi syarat-syarat tersebut, baginya tidak diwajibkan untuk menunaikan ibadah haji.

2. Rukun Haji
a. Ihram, kemauan mengerjakan haji / umrah.
Ihram yakni keadaan bersuci diri bersama dengan mengenakan busana dua helai kain putih tidak berjahit kemudian mengucapkan kemauan haji/umrah.
b. Wukuf di Arafah
c. Tawaf. Tawaf yang wajib adalah tawaf ifadah
d. Sa’i.
e. Tahalul, mencukur atau menggunting rambut minimal menghilangkannya tiga helai rambut.
f. Tertib, yakni mendahulukan yang pertama dan secara berturut-turut hingga pada yang terakhir.
Rukun haji wajib dikerjakan, tidak boleh ditinggalkan. Apabila tidak dipenuhi, maka ibadah haji tidak sah.

3. Rukun Umrah
a. Berihram
b. Tawaf, yakni memutari ka’bah tujuh kali bersama dengan cara-cara dan doa-doa tertentu.
c. Sa’i,
d. Tahalul, mencukur atau menggunting rambut minimal menghilangkannya tiga helai rambut.
e. Tertib, yakni mendahulukan yang pertama dan secara berturut-turut smpai pada yang terakhir.
Pada dasarnya rukun-rukun umrah dan rukun-rukun haji itu sama, hanya saja rukun untuk wuquf di Arafah tidak dimasukkan di dalam rukun umrah.

4. Wajib Haji adalah:
a. Niat ihram dari miqad
b. Mabit (bermalam) di Muzdalifah
c. Mabit (bermalam) di Mina
d. Melontar jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah
e. Tidak laksanakan tingkah laku yang dilarang pada sementara laksanakan ibadah haji
f. Tawaf Wada’ (Nuruddin Shiddiq, 1993: 3)
Wajib haji ini adalah ketetapan yang seumpama dilanggar maka ibadah haji selamanya sah, tetapi wajib membayar dam (denda).

5. Wajib Umrah adalah:
a. Ihram dari tempat yang sudah ditentukan (miqat makani). Sedang miqat zamaninya tidak ditentukan gara-gara ibadah umrah dapat dijalankan sepanjang tahun.
b. umrah atau haji.

Tata Cara Pelaksanaan di dalam Ibadah Haji dan Umrah
Terdapat tiga langkah di dalam pelaksanaan haji dan umrah, yaitu:
1. Ifrad, adalah ihram untuk haji saja lebih dahulu dari miqatnya, kemudian merampungkan pekerjaan haji. Setelah itu ihram untuk umrah kemudian mengerjakan umrah. Ini berarti laksanakan satu per satu dan mendahulukan haji. Cara ini adalah langkah yang lebih baik dari dua langkah yang lain.
2. Tamattu’, adalah mendahulukan umrah dari haji bersama dengan langkah pada mulanya ihram untuk umrahdari miqat negerinya kemudian merampungkan semua urusan umrah, lalu ihram ulang untuk haji.
3. Qiran, adalah mengerjakan haji dan umrah secara bersama-sama, bersama dengan langkah laksanakan ihram untuk keduanya pada sementara ihram haji dan mengerjakan semua urusan haji dan umrah, Dengan demikian, juga di dalam pekerjaan ibadah haji. (Slamet Abidin, 1998: 280-281)

1. Cara Melaksanakan Haji
Ibadah haji adalah tidak benar satu rukun Islam yang lima, yang diwajibkan oleh Allah atas muslim yang sudah mencukupi syarat-syaratnya. Diwajibkan sekali seumur hidup, yang ke-2 kali dan setelah itu hukumnya adalah sunnat.
Firman Allah SWT:
…وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
Artinya: ”… dan jadi kewajiban bagi manusia pada Allah berhaji ke ka’bah itu, yakni (bagi) orang yang dapat berkunjung ke di antara mereka.” (Q.S Al-Imran: 97)
Adapun tata langkah pelaksanaan ibadah haji yaitu:
a. Ihram
Yaitu berniat ihram untuk laksanakan ibadah haji bersama dengan mengfungsikan busana ihram, yakni rida’ ( selendang ) yang menutup badan bagian bawah. Pakaian ihram warnanya putih, bersih, dan tidak berjahit. Berihram dimulai dari miqat (batas yang ditentukan), yakni miqat zamani (waktu) dan miqat makani (tempat)
Hal-hal tersebut merupakan adab-adab ihram:
1) Kebersihan: wudhu atau mandi, memotong kuku, menggunting kumis, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, merapikan jenggot dan rambut.
2) Memakai busana ihram tanpa penutup kepala
3) Memakai minyak wangi
4) Shalat dua rakaat bersama dengan kemauan sunah ihram. Pada rakaat pertama sehabis Al-Fatihah membaca surat Al-Kafirun, dan rakaat ke-2 surat Al-Ikhlas.
5) Mengucapkan talbiyah (Sayyid Sabiq, 1978:85).
Bacaan talbiyah:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَك لَبَّيْكَ ، إنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَك وَالْمُلْكَ لَا شَرِيكَ لَك
Artinya: Aku menjawab panggilan-Mu ya Allah, aku menjawab panggilan-Mu, aku menjawab panggilan-Mu, tak ada sekutu bagi-Mu, aku menjawab panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, kenikmatan dan kekuasaan hanya milik-Mu, tak ada sekutu bagi-Mu.

b. Tawaf
Yaitu memutari Ka’bah., yakni memutari Ka’bah sebanyak tujuh kali.Ka’bah berada di sebelah kiri kita atau berkeliling berlawanan bersama dengan arah jarum jam sambil berdoa.
Macam-macam tawaf:
1) Tawaf qudum: dijalankan pada sementara baru singgah di Masjidil haram (Makkah), disebut bersama dengan Tawaf tahiyat (penghormatan).
2) Tawaf ifadah: dijalankan sehabis bertolak dari Padang Arafah
3) Tawaf wada’: dijalankan dikala dapat meninggalkan Masjidil Haram
4) Tawaf sunah (tawaf tawattu’), ini dapat dijalankan tiap tiap tersedia kesempatan, tanpa tersedia lari-lari kecil di dalamnya.
Syarat-syarat tawaf adalah suci dari hadas besar dan hadas kecil, suci dari najis, menutup aurat, tersedia tujuh kali putaran yang sempurna, tawaf dimulai dari Hajar Aswad dan diakhiri pula di Hajar Aswad, Baitullah selamanya di sebelah kiri, bertawaf di luar baitullah dan di luar Hijir Ismail.
Mengenai langkah pelaksanaanya adalah sebagai tersebut :
1) Memulai dari Hajar Aswad bersama dengan menciumnya atau menyentuhnya bersama dengan tangan. Ketika laksanakan tawaf, Ka’bah selamanya di sebelah kiri.
2) Pada tiap putaran pertama disunahkan berlari-lari kecil bersama dengan langkah-langkah yang pendek dan mendekati Ka’bah. Adapun kaum wanita tidak disunahkan lari-lari kecil di di dalam tawaf. Pada empat putaran berikutnya, dijalankan bersama dengan berlangsung biasa saja.
3) Disunahkan memperbanyak dzikir dan doa di dalam tawaf. Orang yang tawaf dapat berdoa untuk dirinya sendiri, untuk keluarganya dan untuk saudara-saudaranya yang ia kehendaki mengenai kebaikan dunia dan akhirat. Disunahkan pulamelakukan tawaf secara berurutan.
Setelah selesai tawaf, kalau keadaan sangat mungkin maka menuju ke Multazam (tempat antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah). Tempat ini adalah tempat yang mustajab untuk berdo’a. Kemudian pergi ke belakang makam Nabi Ibrahim lalu salat dua rakaat. Membaca surah Al-Kafirun pada rakaat pertama dan Al-Ikhlas pada raka’at kedua. Setelah itu, salat sunah di Hijir Ismail, kemudian minum air zam-zam yang di sajikan di lingkungan masjidil Haram atau di sumbernya. (Nuruddin Shiddiq, 1993: 25)
Dalam buku lain dijelaskan bahwa: Hal yang dijalankan Rasulullah saw. dikala selesai tawaf adalah beliau pergi ke belakang makam Nabi Ibrahim lalu salat dua rakaat. Membaca surah Al-Kafirun pada rakaat pertama dan Al-Ikhlas pada raka’at ke-2 (T.M Hasbi ash-Shiddiqie, 1976:213).

c. Sa’i
Yaitu berlari-lari kecil antara bukit Safa dan bukit Marwah.
Adapun syarat-syarat sa’i sebagai tersebut :
1) Dilakukan sehabis tawaf
2) Dimulai dari Safa dan diakhiri di Marwah
3) Melakukan tujuh kali putaran
Dilakukan pada tempat sa’i, yakni jalur yang memanjang antara Safa dan Marwah, sesuai bersama dengan tingkah laku Rasulullah.

d. Wuquf di Arafah
Pada tanggal 8 Dzulhijjah (Hari Tarwiyah) semua jamaah haji berangkat ke Padang Arafah untuk wuquf. Hadir di Padang Arafah pada sementara yang ditentukan, yakni jadi dari tergelincirnya matahari (waktu Lohor) tanggal 9 bulan haji hingga terbit fajar tanggal 10 bulan haji. Artinya orang yang mengerjakan ibadah haji wajib berada di padang Arafah pada sementara tersebut (Sulaiman Rasyid, 1986:253). Wuquf berarti hadir di padang Arafah pada sementara tersebut.
Wuquf adalah puncak rukun ibadah haji. Dan orang yang tidak wuquf di Arafah sebelum saat fajar menyingsing, maka gugurlah hajinya.

e. Bermalam di Muzdalifah
Muzdalifah beradal dari kata zafartinya dekat. Tempat itu dinamakan Muzdalifah gara-gara orang yang bermalam di sana dapat jadi dekat bersama dengan Allah. Di di dalam Al-Qur’an dinamakan masy’aril haram (monumen suci), dan di tempat inilah yang diperintahkan sehingga mengingat Allah.
Apabila jamaah haji sudah tiba di Muzdalifah, mereka laksanakan salat Maghrib tiga rakaat, salat Isya dua rakaat bersama dengan qasar dan jama’ takhir bersama dengan satu adzan dan dua iqamah, dan tidak salat sunah antara salat itu.
Di Muzdalifah terlebih di Masy’aril Haram, memperbanyak membaca zikir bersama dengan hati yang khusyu dan ikhlas, di sini juga mencari batu kecil untuk digunakan melontar jumrah di Mina.

f. Bermalam di Mina
Setelah salat Subuh, jamaah haji baru berangkat ke Mina. Setelah hingga di Mina, jamaah haji langsung menuju ke tempat melontar jumrah aqabah bersama dengan posisi berdiri dan Kiblat berada di sebelah kiri, dan Mina di sebelah kanan, tidak jauh bersama dengan sasaran melempar jumrah sehingga batu-batu yang dilontarkan tidak meleset. Pada sementara melontar, jamaah haji pun berhenti dan mengucapkan talbiyah. Kemudian jadi melontarkan sebutir batu hingga tujuh kali lontaran dan tiap tiap lontaram disertai ucapan (Slamet Abidin, 1998:295) :
الله اكبر اللهم اجعله حجا مبرورا وذنبا مغفورا
Artinya: “Allah Maha Besar, ya Allah, jadikanlah ibadah hajiku ini haji yang mabrur dan dosaku dosa yang diampuni”.
Bermalam di Mina dijalankan pada hari Tasyriq, yakni 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.

g. Melontar Jumrah
Pada tanggal 10 Dzulhijjah sehabis terbit fajar, jamaah haji menuju ke tempat melontar Jumrah Aqabah. Kemudian jadi melintar Jumrah Aqabah bersama dengan 7 butir batu satu persatu diiringi bersama dengan takbir dan do’a. Setelah itu, laksanakan tahallul pertama.

h. Tahallul
Yaitu penghalalan lebih {dari satu} larangan di dalam berikhram. Contohnya: Mengenakan busana biasa, bercukur, Mengenakan wewangian, dan yang lainnya, kalau bersetubuh bersama dengan istri selamanya dilarang (haram), hingga selesai laksanakan tawaf ifadah, yakni yang dinamakan tahallul kedua, berarti semua larangan yang berlaku sementara tengah berihram sudah dibolehkan kembali, juga mengadakan jalinan suami istri.

i. Kemudian ulang ke Mekkah lalu bertawaf ifadah.
Tawaf ini adalah rukun. Dilaksanakan pada tanggal 10 Dzulhijjah sehabis malontar Jumrah Aqabah. Cara melakukannya layaknya dikala tawaf qudum.
Setelah selesai Tawaf, kemudian salat sunah Tawaf dua rakaat dan berdoa sesuka hati. (Nuruddin Shiddiq, 1993: 48). Dengan ini berarti sjamaah haji sudah laksanakan tahallul kedua.

j. Kembali ke Mina
Setelah salat maghrib jamaah haji ulang ke Mina untuk mabit di sana. Hal ini juga wajib. Pada tanggal 11 Dzulhijjah, ulang melontar tiga Jumrah (Ula, Wustha, dan Aqabah) dilontar pada tanggal 11-12-13 Dzulhijjah. Tiap-tiap jumrah dilontar bersama dengan 7 batu kerikil. Waktu melontar ialah sehabis tergelincir matahari.
Syarat melontar:
1) Dengan tujuh batu, dilontarkan satu persatu
2) Menertibkan tiga jumrah, dimulai dari Jumrah yang pertama, kedua, kemudian yang terakhir.
3) Alat untuk melontar adalah batu, tidak sah melontar bersama dengan tak hanya batu.

k. Tawaf Wada’
Apabila sudah ulang ke Makkah dan senang ulang ke kempung atau tanah air, hendaklah mengerjakan Tawaf Wada’. Tawaf ini wajib. Orang yang tidak mengerjakannya diketika senang ulang itu, boleh balik ulang ke Makkah untuk bertawaf kalau belum melampaui miqat. Kalau tidak kembali, hendaklah menyembelih seekor kambing. (T.M. Hasbi ash-Shiddiqie, 1977:190).

2. Cara Melaksanakan Umrah
Firman Allah SWT:
وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ…
Artinya: “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan `umrah gara-gara Allah…” (QS. Al-Baqarah: 196)
Adapun tata langkah pelaksanaan umrah adalah sebagai berikut:
a. Niat memulai umrah serta ihram dan membaca talbiyah dari miqat.
b. Menghentikan bacaan talbiyah sehabis hingga di Ka’bah (memasuki Masjidil haram), kemudian tawaf 7 keliling (tawaf umrah bagi yang laksanakan haji Tamattu’ dan tawaf Qudum bagi yang melaksanakn haji Qiran dan Ifrad). Setiap putaran dimulai dari hajar Aswad dan diakhiri di sana pula.
Hal-hal yang wajib diperhatikan pada sementara tawaf adalah:
1) Mencium Hajar Aswad kalau memungkinkan, tetapi seumpama mendapat kesukaran boleh menjamah saja bersama dengan tangan dan seumpama menjamah pun sukar, maka lumayan bersama dengan memberi tanda sambil bertakbir dan tidak boleh berdesak-desakan di Hajar Aswad sehingga tidak menyakiti orang lain.
2) Tawaf itu dari sebelah luar Hijir Ismail dan tidak boleh dari sebelah dalamnya gara-gara bagian itu juga Ka’bah.
3) Setelah selesai tawaf keemudian salat dua rakaat di belakang makam Ibrahim as., kalau sangat mungkin tetapi seumpama tidak sangat mungkin di tempat mana saja dari Masjidil Haram.
c. Kemudian Sa’i antara Safa dan Marwah sebanyak 7 kali, yakni Sa’i umrah bagi yang laksanakan haji Tamattu’ dan Sa’i haji bagi yang melaksanakn haji Qiran dan Ifrad. Disyaratkan untuk Sa’i: Niat, tertib, dijalankan sehabis selesai tawaf, dan sempurna 7 kali.
d. Tahallul bersama dengan mencukur semua rambut atau memotong lebih bagi yang laksanakan haji tamattu’ untuk menyempurnakan umrahnya. Setelah tahallul maka dihalalkan baginya apa-apa yang diharamkan dikala ia berihram. Adapun yang laksanakan haji ifrad atau haji qiran, ia selamanya mengenakan ihramnya, untuk menunaikan ibadah haji dan tidak boleh tahallul, kalau pada hari qurban.

Artikel Terkait
Badal Haji & Travel Haji Umrah